Cari

Memuat...

Kamis, 23 Mei 2013

Menulis Naskah Drama


Drama adalah karya sastra dalam bentuk dialog yang dipertontonkan di atas pentas dengan watak masing-masing. Drama sebagai naskah karya sastra memiliki unsur-unsur yang mirip prosa fiksi. unsur-unsur itu merupakan jalinan cerita sehingga sehingga sebuah naskah drama terbentuk.
Untuk dapat‘menulis sebuah naskah drama, dapat melalui berbagai tahap kegiatan, di antaranya: mengenali konflik dalam cerita yang pernah ditonton, mengenali ciri naskah drama, menyimpulkan ciri naskah drama sehingga dapat merefleksikan ide untuk bahan penulisan naskah drama, berlatih menulis kreatif naskah drama satu babak.

1. Mengenali Konflik dalam Cerita yang Pernah Ditonton
Dalam berbagai media elektronik kamu tentu pernah melihat beberapa sinetron remaja yang ditayangkan. Dalam sinetron tersebut digambarkan pertentangan-pertentangan (konflik) sehingga cerita menjadi menarik. Tulislah pertentangan-pertentangan yang pernah kamu lihat dalam sinetron atau kamu lihat dalam kehidupan masyarakatmu!
Tulislah seperti contoh berikut!
Contoh 1
Siapa yang bertentangan ? Orang tua dan anak
Mengapa bertentangan? Orang tuanya ingin agar anaknya menjauhi
pacarnya yang berandal, tetapi anaknya ngotot
mencintai pacarnya.
Contoh 2
Siapa yang bertentangan ? Siswa SMP dan kelompoknya
Mengapa bertentangan? Salah seorang siswa dalam kelompok
membocorkan rahasia kelompok sedangkan
anggota kelompok yang lain menginginkan
kejujuran dan kekompakan.
Contoh 3
Apa yang bertentangan ? Nurani dengan nafsu dalam diri seseorang
Mengapa bertentangan? Tokoh tahu bahwa agama melarang narkoba
tetapi dia ingin mencobanya.
Konflik dalam cerita berupa pertentangan antara dua kekuatan (dua tokoh) atau berupa konflik batin karena adanya dua keinginan atau lebih yang bertentangan dan menguasai diri seseorang sehingga mempengaruhi tingkah laku. Konflik dalam cerita dapat berupa konflik dengan diri sendiri, konflik dengan orang lain, dan konflik dengan Tuhan/kekuatan gaib, atau konflik dengan kekuatan alam.  Alur dalam cerita harus mengandung salah satu atau beberapa jenis konflik tersebut untuk membangun ceritanya. Konflik-konflik tersebut diwujudkan dalam lakuan dan dialog.
Apa yang bertentangan ? Kejahatan dan kebaikan dalam diri seseorang
Mengapa bertentangan? Tokoh tahu bahwa mencontek itu berdosa tetapi dia ingin melakukannya karena tidak bisa mengerjakan soal ulangan.
Dari contoh-contoh yang kamu buat, susunlah simpulan mengenai pengertian konflik dalam cerita dan jenis-jenis konflik yang ada dalam cerita. Bandingkan pernyataan berikut ini dengan simpulan yang kamu temukan dalam diskusi! Komentarilah paparan berikut!

Apa yang kamu ketahui tentang konflik?
2. Mengenali Perbedaan Konflik Naskah Drama
Amati dan bandingkanlah konflik yang ada dalam naskah drama berikut!
Contoh 1
Di halaman sekolah yang sudah mulai sepi. Dani dan Kiki kaget dan bengong
Hendi : Hey … kamu berdua! Saya akan ngasih pelajaran!
Dani   : Ada apa Hen …?
Hendi : Alaaah, pura-pura tidak tahu. Mentang-mentang kalian dapat ngerjain
              soal ulangan, kalian sombong, sedikit pun kalian tidak ngasih tahu!
Kiki     : Kapan kamu minta jawaban? Saya lihat kamu dapat ngerjakan!
Hendi : Ah …, alasan!
Dani   : Lantas, sekarang mau apa?
Hendi : Eh …, kamu nantang?!
Kiki     : Alaaah …, kamu beraninya kalau ada bantuan!
Hendi : Tutup mulutmu, (sambil tangannya memberi isyarat kepada temannya
               agar Dani mulai dikerjain oleh gerombolannya). Hendi dan
               gerombolannya mengeroyok
Dani   : Sebentar … se … bentar (sambil menahan pukulan).
Dari belakang terdengar suara yang ternyata Pak guru Geografi akan melerai
perkelahian itu.
Pak Guru: Heee …, berhenti. Heh, sudah hentikan! (berteriak).
Contoh 2
Pelaku : Anton - Pemimpin redaksi majalah dinding
Rini - Sekretaris redaksi
Wilar - Wakil pemimpin redaksi
Trisno - Karikaturis
Kardi - Pelajar, Eseist majalah dinding
Cerita : Anton tampak berwajah kusut hari minggu itu, segera lari ke sekolah sesudah mendengar berita dari Wilar bahwa majalah dinding dibreidel oleh Kepala Sekolah gara-gara Trisno karikaturis, mengejek Pak Kusno, Guru Karate
Anton : Kardi
Kardi   : Ya!
Anton : Kau ada waktu nanti sore?
Kardi   : Ada apa, sih?
Anton : Aku perlu bantuanmu. Menyusun surat protes itu.
Rini     : Kurasa tak ada gunanya, kita protes. Kita sudah kalah. Bagi kita, Kepala
              Sekolah kita bukan guru lagi. Bukan pendidik. Ia berlagak penguasa.
Kardi   : Itu tafsiranmu, Rin. Menurut dia, tindakannya mendidik.
Anton : Mendidik, tetapi mendidik pemberontak. Bukan mendidik anak-anaknya
              sendiri.
Kardi   : Masa begitu?
Anton : Kalau mendidik anaknya sendiri, kan tidak begitu caranya.
Kardi   : Tentu saja tidak. Ia bertindak, dengan caranya sendiri.
Rini     : Sudahlah. Kalau kalian menurut aku, sebaiknya kita protes diam. Kita
              mogok. Nanti kalau sekolah kita tutup tahun, kita semua diam. Mau apa
              Pak Kepala Sekolah itu, kalau kita diam. Tenaga inti masuk staf redaksi
              semua.
Anton : Tapi masih ada satu bahaya.
Rini     : Bahaya?
Kardi   : Nasib Trisno, karikaturis kita itu?
Anton : Bisa jadi dia akan celaka.
Rini     : Lalu?
Anton : Kita harus selesaikan masalah ini.
Rini     : Caranya?
Anton : Kita harus buka front terbuka.
Kardi   : Itu tidak taktis, Bung!
Anton : Habis kalau kita main gerilya kita kalah. Dia masih bisa main tangan besi
              lewat wali kelas.
Kardi   : Baik. Tapi front terbuka juga berbahaya.
Rini     : Orang luar bisa tahu. Sekolah cemar.
Kardi   : Betul.
Anton : Apakah sudah tak ada jalan keluar lagi? Kita mati kutu?
Kardi   : Ada. Tapi jangan grusa-grusu. Kita harus ingat, ini bukan perlawanan
              melawan musuh. Kita berhadapan dengan orang tua kita sendiri, di rumah
              sendiri. Jadi jangan asal membakar rumah, kalau marah.
Anton : Baik filsuf! Apa rencanamu.
(Trisno masuk, nafasnya terengah-engah. Peluhnya berlelehan).
Rini     : Engkau dari mana Tris?
Anton : Dari rumah Pak Kepala Sekolah?
Kardi   : Dari rumah Pak Kepala Sekolah kita? Kau dimarahi?
Trisno : Huuuhh. Disemprot ludah pagi hari.
Rini     : Mau apa kau ke sana? Kan tak dipanggil?
Anton : Engkau goblok Tris. Masa pagi-pagi ke sana.
Kardi   : Sebaiknya engkau tidak ke sana sebelum berembug dengan kita.
Rini     : Haaah. Individualisme itu coba dikurangi. Kita kan merupakan tim.
Anton : Engkau memang selalu begitu tiap kali.
Trisno : Belum tahu sudah nyemprot.
Kardi   : Pak Kepala ke rumahmu?
Trisno : Ya. Terus aku mau rembugan bagaimana dengan kalian? Belum bisa
               bernafas sudah dicekik. Kok suruh rembugan dulu.
Rini     : Ibumu tahu?
Trisno : Untung mereka ke gereja pagi.
Anton : Terus?
Trisno : Pokoknya aku didesak, ide itu ide siapa. Sudah dapat izin dari kau apa
               belum?
Anton : Jawabmu?
Trisno : Aku katakan itu ide itu ideee …..
Anton : Ide Anton …..
Trisno : Ide Albertus Trisno sang pelukis! Dengan?
Rini    : Tapi, kau bilang sudah ada persetujuan dari pemimpin redaksi?
Trisno : Tidak, Rin.
Anton : Kau bilang apa?
Trisno : Aku bilang bahwa tanpa sepengetahuan Anton, aku pasang karikatur itu.
             Sepenuhnya, tanggung jawab saya. Dengar?
Kardi   : Edaaan. Pahlawan ini benar?
Rini     : Ooooo, hebat kau Tris, bahagialah Yayuk yang punya kekasih macam kau.
Trisno : Ah, Rin, nanti aku tidak bisa tidur kau bilang Yayuk pacarku.
Anton : Kenapa kau bilang begitu. Kau menghina aku, Tris? Aku yang suruh engkau melukis itu. Aku penanggung jawabnya. Akulah yang mesti digantung ….. bukan kau.
Kardi : Lho. Lho, sabar, sabar, sabar.
Anton : Ayo, kau mesti ralat pernyataan itu.
Trisno : Begini Ton, maksudku, agar kau …..
Anton : Tidak ….. aku tidak butuh perlindunganmu. Aku mesti digantung, bukan kau.
Trisno : Begini Ton, maksudku, bahwa aku telah …..
Anton : Sudah! Aku tahu, kau berlagak pahlawan, agar orang-orang menaruh perhatian padamu, sehingga dengan demikian kau …..
Rini : Anton! Ini apa. Ini apa?
Kardi : Anton. Sabar. Kau mau bunuh diri apa bagaimana. Mana sedang gawat malah bertengkar sendiri.
Rini : Ayo dong Laaar, mana dia. Kau ini ngejek!
Anton : Kau bertemu dia, pagi ini?
Wilar : Dia mau!
Anton : Mau.
Rini : Mau?
Wilar : Jelas. Malah dia berkata begini. Aku wali kelas kalian. Aku ikut bertanggung jawab atas perbuatan kalian terhadap Pak Kusno itu. Tapi, kalian tak boleh bertindak sendiri. Diam saja. Aku yang akan maju ke Bapak Kepala Sekolah. Aku akan menjelaskan, bahwa Pak Kusno memang kurang beres. Tapi kalau kalian berbuat dan bertindak sendiri-sendiri main coratcoret, atau membikin onar, kalian akan kulaporkan ke Polisi …..
Rini : Pak Lukas memang guru sejati. Mau melibatkan diri dengan problem anak anaknya. Dia sungguh seperti bapakku sendiri.
Anton : Dia seorang bapak yang melindungi, sifatnya lembut seperti seorang ibu …..
Trisno : Bagaimana kalau dia kita juluki, Pak Lukas sang penyelamat…..
Semua : Setujuuuuuuu!
Kardi : (Termenung)
Rini : Ada apa filsuf?
Kardi : Sekarang sampailah kesimpulan tentang renungan-renunganku selama ini …..
Anton : Waaahhhh!
Rini : Renungan apa Di?
Trisno : Renungan apa lagi …..?
Kardi : Bahwa….. bahwa kreativitas, ternyata ….. ternyata, membutuhkan perlindungan.
Bakdi Sumanto. Majalah Semangat.
Diskusikan dalam kelompokmu hal-hal berikut!
a. Siapakah yang bertentangan (berkonflik) dalam contoh drama 1, 2, dan 3?
b. Mengapa para tokoh itu bertentangan?


3. Mengenali Kaidah Naskah Drama
Dari pengamatanmu terhadap beberapa naskah drama tersebut, simpulkan kaidah naskah drama! Komentarilah pernyataan berikut berdasarkan hasil diskusimu!
Berbeda dengan cerita-cerita fiksi yang bersifat naratif, drama mempunyai kaidah sendiri, yakni:
1.    Drama disajikan berbentuk babak dan adegan. Babak terdiri atas beberapa adegan. Adegan ditandai dengan pergantian pelaku dalam satu peristiwa (satu kali tutup layar dalam drama tradisional).
2.    Dalam naskah drama terdapat pelaksanaan (narasi) yang menunjukkan latar, suasana, lakuan para tokoh dalam drama.
3.    Dalam naskah drama dituliskan nama-nama pelaku yang berbicara di depan kalimat-kalimat dialog .

4. Menulis Kreatif Naskah Drama Satu Babak
Untuk dapat menulis naskah drama satu babak, lakukan langkah berikut!
1.     Menentukan tema, tema cerita sebuah drama dapat diambil dari kehidupan nyata seseorang yang ada di sekitar kita, atau terinspirasi cerpen atau novel yang perna dibaca.
2.     Menyusun kerangka cerita, hal itu  dilakukan agar dapat membantu proses penulisan selanjutnya. Pengembangan daya khayal (imajinasi) dapat merencanakan adegan-adegan yang diinginkan. Hasil menyusun kerangka cerita ini dapat juga berupa ringkasan cerita.
3.     Menentukan konflik, konflik adalah ketegangan atau pertentangan antartokoh cerita. Setelah cerita dibuat, perlu dipertimbangkan kembali bagian-nagian mana konflik akan diletakkan.
4.     Menentukan tokoh cerita dan perwatakannya. Perwatakan dapat dibedakan menjadi dua yaitu fisik dan psikis, perwataka fisik berarti gambaran tentang fisik tokoh; cantik, berambut panjang, berbadan kekar dan sebagainya. perwatakan psikis berarti sifat atau karakter tokoh.
5.     Menyusun naskah,  merupakan kegiatan yang sesungguhnya dalam proses kreatif drama. Pilihlah kata-kata yang dapat mewakili pikiran dan perasaan.
6.     Menentukan judul cerita, dapat ditentukan sebelum atau sesudah cerita ditulis. Secara umum cerita juga harus memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain; sesuai dengan isi dan tema cerita, menarik, dan membawa daya khayal tersendiri, singkat dan tepat.

5. Mengomentari Naskah Drama yang Disusun
Kriteria naskah drama yang baik dinilai dari segi :
1.  Keunikan konflik yang diangkat dalam naskah drama,
2.  Kelogisan penyelesaian konflik,
3.  Kesesuaian dialog dengan rangkaian peristiwa yang digambarkan,
4.  Kejelasan isi dialog, dan
5.  Kejelasan narasi (penjelasan) sehingga mudah dipentaskan.



MEDIA PEMBELAJARAN

Contoh 1
Di halaman sekolah yang sudah mulai sepi. Dani dan Kiki kaget dan bengong
Hendi : Hey … kamu berdua! Saya akan ngasih pelajaran!
Dani : Ada apa Hen …?
Hendi : Alaaah, pura-pura tidak tahu. Mentang-mentang kalian dapat
              ngerjain soal ulangan, kalian sombong, sedikit pun kalian tidak
              ngasih tahu!
Kiki : Kapan kamu minta jawaban? Saya lihat kamu dapat ngerjakan!
Hendi : Ah …, alasan!
Dani : Lantas, sekarang mau apa?
Hendi : Eh …, kamu nantang?!
Kiki : Alaaah …, kamu beraninya kalau ada bantuan!
Hendi : Tutup mulutmu, (sambil tangannya memberi isyarat kepada
               temannya agar Dani  mulai dikerjain oleh gerombolannya). Hendi
                dan gerombolannya mengeroyok
Dani : Sebentar … se … bentar (sambil menahan pukulan). Dari belakang
             terdengar suara yang ternyata Pak guru Geografi akan melerai
              perkelahian itu. Pak Guru : Heee …,  berhenti. Heh, sudah
           hentikan! (berteriak).
Contoh 2
Pelaku : Anton - Pemimpin redaksi majalah dinding
Rini - Sekretaris redaksi
Wilar - Wakil pemimpin redaksi
Trisno - Karikaturis
Kardi - Pelajar, Eseist majalah dinding
Cerita : Anton tampak berwajah kusut hari minggu itu, segera lari ke
          sekolah sesuda mendengar berita dari Wilar bahwa majalah dinding
         dibreidel oleh Kepala Sekolah gara-gara Trisno karikaturis
       , mengejek Pak Kusno, Guru Karate
Anton : Kardi
Kardi : Ya!
Anton : Kau ada waktu nanti sore?
Kardi : Ada apa, sih?
Anton : Aku perlu bantuanmu. Menyusun surat protes itu.
Rini : Kurasa tak ada gunanya, kita protes. Kita sudah kalah. Bagi kita, \ 
         Kepala Sekolah kita bukan guru lagi. Bukan pendidik. Ia berlagak
         penguasa.
Kardi : Itu tafsiranmu, Rin. Menurut dia, tindakannya mendidik.
Anton : Mendidik, tetapi mendidik pemberontak. Bukan mendidik anak-
            anaknya sendiri.
Kardi : Masa begitu?
Anton : Kalau mendidik anaknya sendiri, kan tidak begitu caranya.
Kardi : Tentu saja tidak. Ia bertindak, dengan caranya sendiri.
Rini : Sudahlah. Kalau kalian menurut aku, sebaiknya kita protes diam.
            Kita mogok. Nanti kalau sekolah kita tutup tahun, kita semua diam.
             Mau apa Pak Kepala Sekolah itu,kalau kita diam. Tenaga inti
             masuk staf redaksi semua.
Anton : Tapi masih ada satu bahaya.
Rini : Bahaya?
Kardi : Nasib Trisno, karikaturis kita itu?
Anton : Bisa jadi dia akan celaka.
Rini : Lalu?
Anton : Kita harus selesaikan masalah ini.
Rini : Caranya?
Anton : Kita harus buka front terbuka.
Kardi : Itu tidak taktis, Bung!
Anton : Habis kalau kita main gerilya kita kalah. Dia masih bisa main
             tangan besi lewat   wali kelas.
Kardi : Baik. Tapi front terbuka juga berbahaya.
Rini : Orang luar bisa tahu. Sekolah cemar.
Kardi : Betul.
Anton : Apakah sudah tak ada jalan keluar lagi? Kita mati kutu?
Kardi : Ada. Tapi jangan grusa-grusu. Kita harus ingat, ini bukan
              perlawanan melawan musuh. Kita berhadapan dengan orang tua
                kita sendiri, di rumah sendiri. Jadi jangan asal membakar rumah,
               kalau marah.
Anton : Baik filsuf! Apa rencanamu.
(Trisno masuk, nafasnya terengah-engah. Peluhnya berlelehan).
Rini : Engkau dari mana Tris?
Anton : Dari rumah Pak Kepala Sekolah?
Kardi : Dari rumah Pak Kepala Sekolah kita? Kau dimarahi?
Trisno : Huuuhh. Disemprot ludah pagi hari.
Rini : Mau apa kau ke sana? Kan tak dipanggil?
Anton : Engkau goblok Tris. Masa pagi-pagi ke sana.
Kardi : Sebaiknya engkau tidak ke sana sebelum berembug dengan kita.
Rini : Haaah. Individualisme itu coba dikurangi. Kita kan merupakan tim.
Anton : Engkau memang selalu begitu tiap kali.
Trisno : Belum tahu sudah nyemprot.
Kardi : Pak Kepala ke rumahmu?
Trisno : Ya. Terus aku mau rembugan bagaimana dengan kalian? Belum
             bisa bernafas sudah dicekik. Kok suruh rembugan dulu.
Rini : Ibumu tahu?
Trisno : Untung mereka ke gereja pagi.
Anton : Terus?
Trisno : Pokoknya aku didesak, ide itu ide siapa. Sudah dapat izin dari kau
             apa belum?
Anton : Jawabmu?
Trisno : Aku katakan itu ide itu ideee …..
Anton : Ide Anton …..
Trisno : Ide Albertus Trisno sang pelukis! Dengan?
Rini : Tapi, kau bilang sudah ada persetujuan dari pemimpin redaksi?
Trisno : Tidak, Rin.
Anton : Kau bilang apa?
Trisno : Aku bilang bahwa tanpa sepengetahuan Anton, aku pasang
             karikatur itu.  Sepenuhnya, tanggung jawab saya. Dengar?
Kardi : Edaaan. Pahlawan ini benar?
Rini : Ooooo, hebat kau Tris, bahagialah Yayuk yang punya kekasih
           macam kau.
Trisno : Ah, Rin, nanti aku tidak bisa tidur kau bilang Yayuk pacarku.
Anton : Kenapa kau bilang begitu. Kau menghina aku, Tris? Aku yang
              suruh engkau   melukis itu. Aku penanggung jawabnya. Akulah
              yang mesti digantung …..  bukan kau.
Kardi : Lho. Lho, sabar, sabar, sabar.
Anton : Ayo, kau mesti ralat pernyataan itu.
Trisno : Begini Ton, maksudku, agar kau …..
Anton : Tidak ….. aku tidak butuh perlindunganmu. Aku mesti digantung,
             bukan kau.
Trisno : Begini Ton, maksudku, bahwa aku telah …..
Anton : Sudah! Aku tahu, kau berlagak pahlawan, agar orang-orang
            menaruh perhatian padamu,sehingga dengan demikian kau …..
Rini : Anton! Ini apa. Ini apa?
Kardi : Anton. Sabar. Kau mau bunuh diri apa bagaimana. Mana sedang
           gawat malah bertengkar sendiri.
Rini : Ayo dong Laaar, mana dia. Kau ini ngejek!
Anton : Kau bertemu dia, pagi ini?
Wilar : Dia mau!
Anton : Mau.
Rini : Mau?
Wilar : Jelas. Malah dia berkata begini. Aku wali kelas kalian. Aku ikut
             bertanggung    jawab atasperbuatan kalian terhadap Pak Kusno
               itu. Tapi, kalian tak boleh bertindak sendiri. Diam saja.Aku yang
               akan maju ke Bapak Kepala Sekolah. Aku akan menjelaskan
           , bahwa Pak Kusno memang kurang beres. Tapi kalau kalian
                berbuat dan bertindak sendiri-sendiri main coratcoret, atau
              membikin onar, kalian  akan kulaporkan ke Polisi …..
Rini : Pak Lukas memang guru sejati. Mau melibatkan diri dengan problem
           anak  anaknya. Dia sungguh seperti bapakku sendiri.
Anton : Dia seorang bapak yang melindungi, sifatnya lembut seperti
             seorang ibu …..
Trisno : Bagaimana kalau dia kita juluki, Pak Lukas sang penyelamat…..
Semua : Setujuuuuuuu!
Kardi : (Termenung)
Rini : Ada apa filsuf?
Kardi : Sekarang sampailah kesimpulan tentang renungan-renunganku
           selama ini …..
Anton : Waaahhhh!
Rini : Renungan apa Di?
Trisno : Renungan apa lagi …..?
Kardi : Bahwa….. bahwa kreativitas, ternyata ….. ternyata, membutuhkan
            perlindungan. Bakdi Sumanto. Majalah Semangat.